Pernahkah Anda punya pengalaman unik dengan sebuah kendaraan beroda empat di salah satu kota di Inodnesia yaitu kota Palopo. Nama kenderaan ini disebut Odong-odong. Saya ambil foto ini ketika saya berada di kota Palopo. Foto mengambil foto pada malam hari tanggal, 20 Maret 2019. Saya menghampiri pemilik mobil lalu minta izin untuk mengambil foto. Saya gunakan kamerahandphone. Sang pemilik odong-odongpun setuju untuk saya ambil foto odong-odong. Sayangnya saya belum mencoba odong-odong, saya hanya punya waktu singat jadi hanya mengambil foto saja.
Walaupun hanya mengambil foto, saya punya pengalaman baru dengan odong-odong di Palopo. Inilah odong-odong itu.
Sumber: Foto Yonas Muanley
Daftar payclick
Saya hendak memposting foto taman I Love Palopo City dalam foto yang saya ambil. Saya memang senang melihahtanya, itulah sebabnya saya abadikan dalam beberapa moment. Berikut salah satu moment dari Taman I Love Palopo City
Sumber: Foto Yonas Muanley
Ketika saya memasuki kota Palopo pada malam hari tanggal 16 Maret 2019, saya melihat taman kota yang sangat mempengaruhi saya dalam sisi estetika, sayapun bercerita kepada pemilik rumah tempat saya menginap dan mereka katakan itu ada di depan kantor wali kota. Saya katakan bila ada waktu saya hendak ke tempat itu. Mereka pun menyatakan akan bersedia mengantar ke tempat tersebut.
Rencana itu terwujud pada malam hari yaitu malam Rabu 20 Maret 2019. Saya diantar oleh pemilik rumah dengan mobil pribadinya. Kamipun menuju ke tempat yang pernah saya lihat ketika melawati tempat tersebut pada tanggal 16 Maret 2019. Setelah tiba, bapak yang mengatar saya mencari tempat parkir, setelah itu kami turun dan sayapun mulai beraksi dengan mengambil foto dan merekam melalui handphne milik saya.
Setelah saya sampai pada bagian depan, saya melihat ada nama dengan Tulisan yang nampak dalam gambar berikut ini.
Sumber: Foto Yonas Muanley
Foto di atas adalah hasil kunjungan saya ke taman yang nampak dalam foto di atas. Saya senang berada di kota Palopo dan menyaksikan beberapa tempat yang berkesan di hati
Saya mendapat sebuah tugas mulia yaitu mengajar di Palopo untuk jangka waktu 4 hari, mulai Senin 18 - 21 Maret 2019. Teman saya meminta saya untuk mengajar di Palopo pada tanggal yang saya telah sebutkan. Untuk memenuhi maksud ini, saya berangkat dari bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu Subuh yaitu tanggal 16 Maret 2019. Saya berangkat dengan pesawat Batik Air dan tiba di Bandar Udara Hasanudin-Makassar pada subuh pukul 3.00. Kemudian menunggu sebentar di Bandar Udara sampai pukul 6.00 untuk melanjutkan ke tempat keberangkatan Bus dari kota Makkasar ke Toraja. Saya kemudian menyewa taksi ke PO Bus. Setelah menempuh perjalanan dalam waktu beberapa menit, kamipun sampai ke PO Bus jurusan Makassar ke Palopo.
Saya turun dari taksi dan bergegas ke tempat pembelian tiket bus yang full Ac. Harganya Rp 150.000,00. Tempat duduk dapat di setting untuk keperluang tidur selama perjalanan Makassar ke Palopo.
Jam keberangkat bus ke Palopo adalah pukul 09.30, sementara saya tiba sekitar 06.30, dengan demikian saya harus menunggu sampai pukul 09.30. Setelah tiba waktu, kamipun masuk bus dan bus segera meninggalkan kota makassar ke Palopo. Dalam perjalanan tersebut, saya menikmati keindahan Sulawesi, gunung-gunung yang nan indah, pantai yang mempesona dan beberapa rumah adat yang juga sangat menarik untuk dipandang. Ada unsur estetika yang tinggi dan disertai dengan kearifan lokal yang menyatu dengan ukiran-ukiran pada rumah adat maupun rumah tinggal, termasuk rumah makan yang pernah saya lihat waktu kami berhenti untuk makan siang sebelum melanjutkan ke Palopo.
Setelah makan siang di sebuah rumah makan yang nama daerahnya saya lupa karena tidak sempat mencatatnya. Kamipun melanjutkan perjalanan ke kota Palopo. Setelah beberapa jam, kamipun melawati kota Pare-pare. Pada waktu melewati kota para-pare, saya ingat mantan Presiden Republik Indonesia, yaitu Bapak Habibie. Bus sempat masuk terminal pare-pare dan keluar dari terminal untuk kemudian melanjutkan ke Palopo.
Setelah beberapa jam, kamipun melewati suatu daerah, yaitu daerah masamba. Tentu ada penyanyi di acara Indosiar, yaitu acara nyanyi pencarian bakat Dangdut. Nama penyanyi itu yakni Evi Masamba. Bus pun terus melaju dan akhirnya kami tiba di terminal kota Palopo pada pukul 09.00. Saya kemudian mencari tempat makan dan cas hp. Setelah itu melanjutkan ke tempat penginapan di Jalan Veteran.
Pada hari Senin tanggal 18 Maret 2019, saya melakukan kegiatan memberi kuliah dari pukul 09.00-16.00. Demikian juga hari Selasa, Rabu dan Kamis. Saya sangat menikmati kegiatan memberi kuliah. Perkuliahan berlangsung secara menarik. Suasana yang alamiah. Kami makan bersama dengan mahasiswa pada acara makan siang dan juga minum kopi dan makan kue pada pagi dan sore hari.
Intinya saya sangat menikmati pekerjaan mengajar dalam 4 hari di kota Palopo. Dalam rumah yang saya tempati, tentunya kamarnya full AC. Pemilik rumah memberilayanan terbaik, kadang di antar makan ikan bakar di kota Palopo. Ikan bakarnya sangat enak.
Demikian kisah perjalanan di kota Palopo
Perjalanan Melewti Jalan Tele merupakan perjalanan yang membuat nyali saya menjadi ciut. Saya pernah mengambil foto di tempat yang sering (saya dengar cerita demikian, namun kalau berbeda saya mohon maaf) terjadi kecelakaan. Saya tidak berani melihat keluar, saya mengeluarkan kamera kemudian mengambil gambar dengan cara mengeluarkan camera melalui cendela mobil tanpa berani melihat objek foto karena wilayah tersebut kjurang dan kedalamannya saya tidak bayangkan karena saya tidak berani melihat dari atas mobit
Saya mengadakan perjalanan ke Samosir melalui jalan darat dengan menggunakan bus dari Jakarta ke Balige. Dari Balige saya harus menyeberang dengan menggunakan kapal untuk sampai di pulau Samosir, tepatnya di Nainggolan. Rumah mertuaku ada di dekat pelabuhan Nainggolan.
Cerita tentang Sumba Timur tidak dapat saya pisahkan dengan perjalanan saya ke Sumba Barat. Pada waktu saya pertama kali ke Sumba Barat dari Kupang, saya harus melwati Sumba Timur. Perjalanan tersebut menggunakan kapal penumpang tahun 1986. Memang sudah sangat lama. Ketika kembali ke Kupang,saya harus kembali lagi ke Sumba Timur dan harus menunggu kapal beberapa hari, tentu berbeda dengan perkembangan sekarang.
Pada tahun 2010, saya berangkat dari Jakarta ke Kupang dan dari Kupang menuju Waingapu dengan menggunakan pesawat dan melangsungkan perjalanan darat ke Sumba Barat dengan menggunakan Bus.
Perjalanan saya ke Sumba Barat beberapa waktu yang lalu, memberi pengalaman unik bagi saya. Pengalaman unik bagaimana melewati jalan dengan padang rumput safana yang ketika pada musim hujan, akan nampak estika yang sangat menawan hati. Belum lagi dengan pengalaman lain seperti kuda Sumba Barat, dan beberapa pengalaman tentang peternak kerbau, bila pagi dan sore hari, kita akan melihat pemandangan yang indah di jalan bagaimana para gembala kerbau menggiring kerbau ke kandang dengan melalui jalan. Mungkin sekarang sudah berubah tetapi pengalaman saya dalam beberapa tahun lalu memberi pengalaman yang terindah dalam diri saya.